Beberapa Tipe Pemikiran Wanita Jepang Setelah Menikah

1 komentar

Moshi-moshi minasan, bila Anda suka sama wanita jepang karena melihat kecantikannya, yang dilihat dari putih kulitnya, bodinya aduhai, atau terserah Anda melihat dari segi apanya. hehehe. Namun disisi lain yang harus perlu dicermati bila ingin menikahi wanita Jepang karena pola pikir yang diterapkan wanita Jepang dalam berumah tangga pastinya beda jauh sama wanita Indonesia sendiri karena berbeda dari segi budaya. Nah kali ini saya akan membagi informasi tentang Beberapa Tipe Pemikiran Wanita Jepang Setelah Menikah yang perlu Anda ketahui semua.

1. Istri lebih memilih jadi ibu rumah tangga

Selama beberapa dekade terakhir, di banyak negara Barat, sudah dianggap normal jika seorang wanita (istri) akan terus bekerja setelah menikah. Meskipun Jepang memberlakukan undang-undangan untuk kesetaraan gender pada kesempatan kerja sejak 1986, namun peran tradisional suami yang bekerja dan mencari nafkah, sedangkan istri bertugas di rumah untuk merawat suami dan anak masih belum lekang oleh waktu. Pola pikir Jepang ini memang tidak mutlak berlaku, namun umum dilakukan oleh wanita-wanita Jepang.

2. Istri mengontrol dompet suami

Laki-laki di Jepang secara tradisional diberikan tanggung jawab untuk mencari nafkah bagi keluarga. Sedangkan pengendalian anggaran dan pengeluaran umum dipegang oleh istri mereka. Jika kondisinya adalah kedua pasangan sama-sama bekerja, mereka biasanya akan membuat akun tabungan bersama dan berdiskusi pembagian pendapatan masing-masing untuk biaya hidup bersama.

Wanita Jepang mengontrol dompet suaminya. Deposito suami, semua gajinya, akan mengalir ke rekening istri. Setelah itu, istri akan menentukan tunjangan hidup mereka berdua selama satu bulan. Secara khusus, masyarakat Jepang menjalankan budaya dimana sesama karyawan wajib bersosialisasi dengan rekan kerja mereka. Salah satunya melalui aktivitas makan bersama dan minum (alkohol) bersama. Nah, Madam Riri mengatakan istri berperan untuk mengerem suami mereka dalam mengonsumsi alkohol ini.

3. Bahasa keseharian

Salah satu tantangan terbesar dalam pernikahan dua kewarganegaraan berbeda adalah bahasa internasional. Meskipun kedua pasangan adalah bilingual dan dapat saling mengerti, konvensi linguistik tertentu masih bisa menyebabkan adanya salah pengertian.

4. Jarang menitipkan anak

Di Barat, pasangan yang sudah menikah boleh saja menitipkan anak-anak mereka ke rumah saudara atau tetangga ketika mereka ingin makan malam romantis berdua saja di restoran. Tapi di Jepang, menitipkan anak anda di rumah seorang kerabat atau di tempat penitipan anak sementara orang tuanya bersenang-senang atau berkencan malam itu sangat jarang.

5. Panggilan sayang dan ungkapan cinta


Pola bicara pasangan merupakan refleksi dari pola berbicara sang anak. Oleh karena itu, Jepang mengharuskan aturan panggilan di dalam keluarga. Misalnya, setelah bayi pertama anda lahir, maka anda dan pasangan anda tidak lagi boleh lagi saling memanggil nama, melainkan menggantinya dengan okaa-san (ibu) dan otou-san (ayah). Panggilan itu diwajibkan bahkan ketika mereka hanya bercakap berdua saja, tidak di depan anak-anaknya. Panggilan mama-papa juga masih ada, atau mereka menggantinya dengan panggilan suamiku dan istriku.

Setelah anda punya cucu, maka anda dan pasangan Jepang anda juga kembali mengganti panggilan menjadi obaa-san (nenek) dan ojii-san (kakek). Seorang pacar, suami, istri di Jepang sangat jarang mengatakan 'I Love You' atau 'Aku Mencintaimu' kepada pasangannya. Ini memang terdengar sedikit dingin dan aneh. Namun, orang Jepang lebih suka mengungkapkan dan mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Jadi, mereka mengungkapkan cinta dengan tindakan.

1 komentar:

Obat Mioma mengatakan...

Keren Keren Artikelnya
Update terus gan

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...